Senin, 17 Oktober 2011

Peranan Motivasi dalam Pendidikan


BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Motivasi  belajar  merupakan  faktor  psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam  hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa  yang memiliki  motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi  untuk melakukan kegiatan belajar.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana  peranan guru dalam  memotivasi anak didik? Seberapa penting peranan guru dalam memotivasi? Apa saja pengaruh guru bagi anak didik?
1.3 Tujuan Penulisan
Motivasi ini dapat juga dikaitkan dengan  persoalan minat. Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan  dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu apa yang di lihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri.
 Minat timbul tidak  secara tiba-tiba/spontan, melainkan timbul akibat partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja. Jadi jelas bahwa soal minat akan selalu berkaitan dengan soal kebutuhan atau keinginan. Oleh karena itu yang penting bagaimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus belajar. Setelah membaca dan mempelajari makalah ini maka diharapkan para pembaca dan penulis bisa mengetahui bentuk motivasi dan mengetahui bentuk-bentuk pembelajaran untuk membangun motivasi peserta didik. 

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Motivasi
            Menurut Mc.Donald dalam buku Sardiman (2010:74) yang dikutip bahwa , Motivasi dalam perubahan energy dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya ”feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukan Mc.Donald ini mengandung 3elemen penting. Terjadinya perubahan  energy di dalam system “neurophysiological” yang ada pada organism manusia. Karena bahwa motivasi itu mengawali menyangkut kegiatan fisik manusia. Motivasi ditandai dengan munculnya ,rasa “feeling”, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
            Dengan ketiga elemen di atas,maka dapat dikatakan bahwa motivasi  itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energy yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua  ini didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan.

2.2 Fungsi Motivasi dalam Pembelajaran 
            Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan. Motivasi ada dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ektrinsik.
a)      Motivasi Intrinsik
      Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
b)       Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.

2.3 M
acam-macam Motivasi
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.Dengan demikian,motivasi atau motif-motif yang aktif itu sangat bervariasi.
1.      Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
a.       Motif-motif bawaan
Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir,jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai cotoh misalnya:dorongan untuk makan,dorongan untuk minum,dorongan untuk bekerja,untuk beristirahat,dorongan seksual. Motif-motif ini seringkali disebut motif-motif yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini,maka Arden N. Frandsen member istilah jenis motif Physikological drivers.
b.      Motif-motif yang dipelajari
            Maksudnya motif-motif timbul karena dipelajari.Sebagai contoh:dorongan untuk belajar suatu cabang  ilmu pengetahuan,dorongan untuk mengejar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini seringkali disebut dengan motif-motif yang diisyaratkan secara social. Sebab manusia hidup dalam lingkungan social dengan sesama manusia yang lain,sehingga motivasi itu terbentuk. Frandsen mengistilahkan dengan Affiliative needs. Sebab justru dengan kemampuan berhubungan, kerja sama di dalam masyarakat tercapailah suatu kepuasan diri. Sehingga manusia perlu mengembangkan sifat-sifat ramah,kooperatif,membina hubungan baik dengan sesama,apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan belajar mengajar,hal ini dapat membantu dalam usaha mencapai prestasi.
Disamping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif berikut ini:
1)      Cognitive moties
Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic,yakni menyangkut kepuasan individual. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah,terutama yang bekaitan dengan pengembangan intelektual.
2)      Self-expression
Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. Untuk ini memang diperlukan kreativitas,penuh imajinasi.Jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.
3)      Self-enhancement
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang.

2.4 Bentuk-Bentuk Motivasi di Sekolah
     Di dalam kegiatan belajar-mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Dalam kaitan itu perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi adalah bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat, dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Hal ini guru harus hati-hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan perkembangan belajar siswa.
Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah.
1.      Memberi angka.
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai pada raport angkanya baik-baik.
2.      Hadiah.
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, cara ini dapat juga dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu, misalnya pemberian hadiah pada akhir tahun kepada para siswa yang mendapat atau penunjukkan hasil belajar yang baik, memberikan hadiah bagi para pemenang sayembara atau pertandingan olahraga.
3.      Saingan/kompetisi.
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat-alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak dimanfaatkan di dalam dunia industri atau perdagangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar siswa. Hanya saja persaingan individual akan menimbulkan pengaruh yang tidak baik, seperti rusaknya hubungan persahabatan, perkelahian, pertentangan, persaingan antar kelompok belajar.
4.      Ego-involvement.
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa si subjek belajar. Para siswa akan belajar dengan keras jadi karena harga dirinya.
5.      Memberi ulangan.
Para siswa akan menjadi giat kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat oleh guru, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan dan bersifat rutinitis. Dalam hal ini guru harus juga terbuka, maksudnya kalau akan ada ulangan  harus diberitahukan kepada siswanya.
6.      Mengetahui  hasil.
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7.      Pujian.
Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu, supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8.      Hukuman.
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif  tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
9.      Hasrat untuk belajar.
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesenjangan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
10.  Minat.
Minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut:
a.       membangkitkan adanya suatu kebutuhan,
b.      menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau,
c.       memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik,
d.      menggunakan berbagai macam bentuk mengajar.

11.  Tujuan yang diakui.
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.
12.  Karyawisata dan ekserkusi.
Cara ini dapat membangkitkan motivasi belajar oleh karena dalam kegiatan ini akan mendapat pengalaman langsung dan bermakna baginya. Selain dari itu, karena objek yang akan dikunjungi adalah objek yang menarik minatnya. Suasana bebas, lepas dari keterikatan ruangan kelas besar manfaatnya untuk menghilangkan ketegangan-ketegangan yang ada, sehingga kegiatan belajar dapat dilakukan lebih menyenangkan.

2.5 Perlunya Aktivitas dalam Belajar
     Mengapa di dalam belajar diperlukan aktivitas? Sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar-mengajar. Sebagai rasionalitasnya hal ini juga mendapatkan pengakuan dari berbagai ahli pendidikan.
Dalam hal kegiatan belajar ini, Rousseau memberikan penjelasan bahwa segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri, baik secara rohani maupun teknis. Ilustrasi ini diambil dalam kasus dalam lingkup pelajaran Ilmu Bumi. Ini menunjukkan setiap orang yang belajar harus aktif sendiri. Tanpa ada aktivitas, proses belajar tidak mungkin terjadi.
2.6 Prinsip-Prinsip Aktivitas
            Prinsip-prinsip aktivitas dalam belajar dalam hal ini akan dilihat dari sudut pandang perkembangan konsep jiwa menurut ilmu jiwa.Dengan melihat unsur kejiwaan seseorang subjek belajar/subjek didik, karena dilihat dari sudut pandang ilmu jiwa,maka sudah barang tentuyang menjadi focus perhatian adalah komponen manusiawi yang melakukan aktivitas dalam belajar-mengajar,yakni siswa dan guru.
            Untuk melihat prinsip aktivitas belajar dari sudut pandangan ilmu jiwa ini secara garis besar dibagi menjadi dua pandangan yakni Ilmu Jiwa Lama dan Ilmu Jiwa Modern.
a)      Menurut pandangan Ilmu Jiwa Lama
            John Lockedengan konsepnya Tabularasa dalam buku Sardiman A.M, mengibaratkan jiwa (psyche) seseorang bagaikan kertas putih yang tidak tertulis. Kertas putih ini kemudian akan mendapatkan coretan atau tulisan dari luar. Terserah kepada unsure dari luar yang akan menulis, mau ditulis merah atau hijau, kertas itu akan bersifat reseptif. Konsep semacam ini kemudian ditransfer ke ddalam dunia pendidikan.
            Selanjutnya Herbert  dalam buku Sardiman A.M. (2010:97) memberikan rumusan bahwa jiwa adalah keseluruhan tanggapan yang secara mekanis dikuasai oleh hukum-hukum asosiasi. Atau dengan kata lain dikuasai oleh unsure-unsur dari luar. Relevansinya dengan konsep John Locke,bahwa guru pulalah yang aktif,yakni menyampaikan tanggapan-tanggapan itu. Siswa dalam hal ini pasif, secara mekanis hanya menurut alur hukum-hukum asosiasi tadi. Jadi siswa kurang memiliki aktivitas dan kretivitas.
            Memang sebenarnya anak didik itu tidak pasif secara mutlak, hanya proses belajar-mengajar semacam ini jelas tidak mendorong anak didik untuk berpikir dan beraktivitas.Yang banyak beraktivitas adalah guru dan guru dapat menentukan segala sesuatu yang dikehendaki.
b)      Menurut pandangan Ilmu Jiwa Modern
Aliran ilmu jiwa yang tergolong modern akan menerjemahkan jiwa manusia sebagai sesuatu yang dinamis, memiliki potensi dan energi sendiri. Oleh karena itu, secara alami anak didik itu juga bias menjadi aktif, karena adanya motivasi dan didorong oleh bermacam-macam kebutuhan. Jadi tugas pendidik adalah membimbing dan menyediakan kondisi agar anak didik dapat mengembangkan bakat dan potensinya. Dalam hal ini, anaklah yang beraktivitas, berbuat dan harus aktif sendiri.Sebab siswa harus aktif sendiri termasuk bagaimana strategi yang harus ditempuh untuk mendapatkan sesuatu pengetahuan atau nilai. Guru hanya memberikan acuan dan alat pembelajaran, ini semua menunjukkan bahwa yang aktif dan mendominasi aktivitas adalah siswa .
               Hal ini sesuai dengan hakikat anak didik sebagai manusia yang penuh dengan  potensi yang bisa berkembang secara optimal apabila kondisi mendukungnya. Sehingga yang penting bagi guru adalah menyediakan kondisi yang kondusif.
              Sehubung dengan hal ini, Piaget dalam buku Sardiman A.M. (2010:99) menerangkan bahwa seseorang anak itu berpikir sepanjang ia berbuat. Tanpa perbuatan berarti anak itu tidak berpikir. Oleh karena itu, agar anak berpikir sendiri maka harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri. Dengan demikian, jelas bahwa aktivitas dalam arti luas, baik bersifat fisik/jasmani maupun mental/rohani. Kaitan antara keduanya akan menimbulkan aktivitas belajar yang optimal.

2.7 Jenis-Jenis Aktivitas dalam Belajar
Sekolah adalah salah satu  pusat kegiatan belajar. Dengan demikian, disekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas. Banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa menurut Paul B. Diedrich antara lain dapat digolongkan sebagai berikut  :
a.       Visual activities, yang termasuk di dalamnya adalah, membaca,memperhatikan gambar demonstrasi,percobaan,pekerjaan orang lain.
b.      Oral activities, seperti : menyatakan, merumuskan, bertanya, member saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
c.       Listening activities, sebagai contoh mendengarkan : uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
d.      Writing activities, seperti : menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
e.       Drawing activities, misalnya : menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
f.       Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain : melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, berternak.
g.      Mental activities, sebagai contoh misalnya : menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisi, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h.      Emotional activities, seperti misalnya : menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
            Jadi dengan klasifikasi aktivitas seperti uraian diatas, menunjukan bahwa aktivitas di sekolah cukup komplek dan bervariasi.Kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu sekolah-sekolah akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimaldan bahkan memperlancar peranannya sebagai pusat transformasi kebudayaan.







BAB III PENUTUP
3.1 K esimpulan
Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

3.2 Saran
            Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Bergayut dengan ini kegagalan siswa jangan begitu saja mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberii motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat/belajar. Jadi tugas guru bagaiman mendorong peserta didik agar pada dirinya tumbuh motivasi.







Daftar Pustaka        
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
A.M., Sardiman. Interkasi Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali.
Daryanto .2008. Evaluasi pendidikan. Jakarta: Rineka Citra.
B. Uno, Hamzah. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar